Monday, March 7, 2011

Potensi Bisnis Industri Perhotelan





Hotel-hotel di Indonesia tumbuh seperti cendawan di musim hujan. Terutama di Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Bali, dan kota-kota besar lainnya. Kiita kini dengan gampang mencari penginapan mulai dari bintang lima hingga kelas melati, juga hotel-hotel khusus yang menyebut diri sebagai ‘hotel butik’ – meski tidak masuk kategori bintang karena ada persyaratan tertentu, tapi tidak kalah mewahnya dengan mereka. 

SK Menteri Perhubungan RI No. SK.241/H/70 tahun 1970, mendefinsikan hotel sebagai perusahaan yang menyediakan jasa dalam bentuk penginapan serta menyajikan hidangan dan fasilitas lainnya dalam hotel untuk umum, yang memenuhi syarat-syarat comfort dan bertujuan komersial. Bentuk, susunan, tata ruangan, dekorasi, peralatan dan perlengkapan bangunan hotel dan akomodasi, sanitasi, hygiene, estetika, keamanan dan ketentraman, serta secara umum dapat memberikan sasaran nyaman. Dan khusus untuk kamar-kamar tamu dapat menjamin adanya ketenangan pribadi untuk para tamu hotel. 

Penentuan golongan hotel-hotel menurut tanda bintang dinyatakan dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh Direktur Jenderal Pariwisata, yang dilakukan tiga tahun sekali. Diklasifikasi menjadi 5 golongan, yang dinyatakan dengan tanda bintang. Golongan tertinggi dengan tanda bintang lima, sedangkan yang terendah dengan tanda bintang satu. Tanpa bintang disebut hotel melati. 

Tidak bisa dimungkiri, industri pariwisata tidak bisa dipisahkan dengan akomodasi perhotelan, atau pun sebaliknya. Hotel termasuk main tourism superstructures, yang berarti hidup dan kehidupannya banyak tergantung pada banyak atau sedikitnya wisatawan yang datang. Bila kita umpamakan industri pariwisata itu sebagai suatu bangunan, maka sektor perhotelan merupakan tiangnya.

Menurut Stephen Tan, Chief Executive Officer Singapore Exhibition Services, industri makanan dan hospitality di Asia mampu tumbuh berkesinambungan setiap tahun. Penjelasan tersebut memang dalam rangka menyambut Food Hotel Asia 2010 di Singapura beberapa waktu yang lalu, tapi masih relevan hingga kini. "Kesempatan berbisnis terbuka lebar sejak negara-negara berkembang di Asia semakin membuka kegiatan bisnis internasional. Di sisi lain, perkembangan maskapai berbiaya rendah pun turut meningkatkan permintaan perjalanan dan akomodasi," ungkapnya.

Yang jelas, industri perhotelan dewasa ini sudah sangat maju, banyak perusahaan raksasa yang memasuki usaha yang menarik ini. Nama-nama besar di industri perhotelan sudah masuk Asia, termasuk Indonesia. Sebutlah Holiday Inn, Sheraton, Four Seasons, Kempinski, Inter-continental, Hilton International, Ritz-Carlton, Mandarin Oriental, Ramada Inn, dan lain-lain. 

Merek-merek lokal pun tidak kalah gencarnya berekspansi untuk membangun kerajaannya sendiri, mulai dari Mulia, Sultan, Sahid Group, dan lain-lain. Mereka, baik lokal maupun chain hotel, menawarkan fasilitas dan kelebihan masing-masing. 

Mandarin Oriental Jakarta, untuk menyebut contoh, menjual 272 kamar, termasuk 56 luxury rooms dan 6 suites ini, tidak hanya luas, tapi juga mewah dan lega hingga ke dalam kamar. Semua kamar memiliki dekorasi Oriental dan Indonesia. Di semua kamar tersedia komputer dan konektivitas iPod, sebuah minibar, DVD player dan stereo surround sound. Kamar mandi marmer yang besar memiliki mandi pancuran hujan (rain shower) dan bak mandi terpisah. 

Hotel ini memang “muka lama” di Indonesia sejak 1978, tapi setelah adanya renovasi selama 20 bulan, Mandarin Oriental Jakarta kini tampil bak hotel baru yang megah, mewah dan modern, sesuai dengan kategorinya sebagai hotel bintang lima berlian.

"Kami berharap fasilitas dan interior yang ditawarkan di Mandarin Oriental, Jakarta yang baru dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung hotel. Kami akan menjadi pilihan utama tempat untuk melakukan pertemuan bisnis maupun menikmati sajian kuliner istimewa. Lebih dari itu, hotel ini bisa menjadi ikon kebanggan bagi kita semua, terutama bagi masyarakat Jakarta," ujar General Manager Mandarin Oriental Jakarta Andrew Abram.

grandkemang hotel Jakarta, adalah contoh yang lain lagi. Meski tidak terletak di CBD (central business district), hotel ini berada di kawasan elite di Jakarta Selatan, yakni Kemang. Desainnya yang modern hi-tech (retro), menawarkan keramahan kepada para tamunya dengan layanan individual penuh.

Pada pada awalnya yang dibangun 24 April 1974 dengan nama “Ginza Inn”. Tapi dengan berkembanganya lingkungan Kemang yang dikenal sebagai kawasan bisnis hospitality karena banyak “kafe dan resto” dan banyak ditinggali para ekspatriat, hotel ini pun berkembang pesat, dan kemudian berubah nama dengan menjadi grandkemang.

Semula yang hanya menawarkan 100 kamar, setelah melaui beberapa kali renovasi, grndkemang kini memiliki 203 kamar yang nyaman, baik untuk travelers maupun long stay guests. Semua kamar didekorasi dengan modern Indonesian artwork, stylish simplicity, dan furnished with fine fabrics.

“Color your world” itulah konsep brand-nya, yang menunjukkan bahwa ada dedikasi yang tinggi tim pengelola kepada para tamunya, dengan pelayanan yang personal, hangat, dan nyaman. “We provide memorable experiences as unique as every guest is. A stay at grandkemang is an affirmation of self expression, where individuality is embraced and appreciated….,” tulisnya dalam situs resminya.

Kawasan yang mapan tentu kurang lengkap jika tidak dilegkapi dengan fasilitas hotel. Itu sebabnya Sentra Kelapa Gading merupakan jantung bisnis bagi kota Summarecon Kelapa Gading yang menjadi destinasi belanja dan hiburan bagi warga Jakarta, membuka Harris Hotel, Mei tahun ini. 

Hotel berbintang empat ini hadir sebagai wujud kerjasama antara PT Summarecon Agung, Tbk dan Tauzia Hotel Management sebagai pengelola jaringan Harris Hotel di Indonesia. Konsep Simply, Unique and Friendly pun tetap diusung Harris Hotel sebagaimana telah diterapkan juga di jaringannya di beberapa kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bali, Batam, Solo dan Yogyakarta. 

Dari beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa bisnis perhotelan di Indonesia memang makin menarik para pengusaha, terutama properti atau perusahaan yang memang bergerak dalam bidang hospitality. Menurut Ketua JIHA (Jakarta International Hotels Association), Poul E. Bitsch, di masa depan, bisnis perhotelan akan makin berkembang, seiring makin banyaknya orang yang kaya dan punya uang untuk bepergian. “Selain itu, makin banyak pula orang yang traveling dan melihat-lihat bagian dunia lain. Karena itu selalu akan ada kebutuhan untuk bisnis perhotelan,” katanya.

No comments:

Post a Comment