Wednesday, October 12, 2011

Jakarta Property Market 3Q 2011


“Permintaan ruang kantor dan lahan industri melaju pesat, pasar hunian terus berkembang.”

Perkembangan ekonomi Indonesia yang stabil terus menarik minat investor baik lokal maupun asing untuk mengembangkan sayap bisnisnya di dalam negeri. Perusahaan dari berbagai sektor usaha terus melakukan pengembangan baik berupa ekspansi jumlah karyawan, pengembangan kantor baru maupun peningkatan fasilitas produksinya. Hal ini memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pasar properti di Jakarta khususnya sektor perkantoran komersial dan juga kawasan industri.

Permintaan dari kalangan korporasi ini menjadi penggerak utama kedua sektor tersebut, yang dalam dua tahun terakhir mengalami peningkatan sangat pesat. Sementara itu, kondisi perekonomian yang mendukung penurunan suku bunga bank dan juga mendorong daya beli konsumen menjadi penggerak pertumbuhan pasar residential and retail di Ibukota ini.

Kedua sektor tersebut juga mengalami pertumbuhan positif selama triwulan ketiga tahun 2011 ini. Demikian kesimpulan paparan yang disampaikan oleh Jones Lang LaSalle – Procon, sebuah konsultan properti internasional yang berkantor pusat di Chicago, Amerika Serikat, dalam acara Media Briefing, 12 Oktober 2011 di Jakarta baru-baru ini.

Dalam kesempatan itu, Todd Lauchlan, Country Head Jones Lang LaSalle – Procon, mengatakan bahwa pasar perkantoran di Jakarta khususnya di CBD saat ini sedang menikmati pertumbuhan yang sangat pesat di mana permintaan ruang kantor terus meningkat seiring perkembangan perusahaan-perusahaan baik yang sudah established maupun yang baru akan masuk ke Indonesia. Tingkat penyerapan di daerah CBD selama sembilan bulan pertama tahun 2011 mencapai sekitar 340,000 m2, atau meningkat sebanyak 182% dari periode yang sama tahun sebelumnya, katanya.

Lebih lanjut dia menambahkan bahwa tingkat penyerapan tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang dekade terakhir, yang menunjukan bahwa pasar perkantoran di CBD berkemungkinan mengalami periode booming seperti sebelum krisis moneter tahun 1997 yang ditandai dengan tingginya tingkat hunian (diatas 90%) dan pesatnya pertumbuhan harga sewa.

Hal serupa juga terjadi di pasar kawasan industri. Permintaan akan lahan dan fasilitas industri terus meningkat secara tajam akibat agresifnya ekspansi sejumlah perusahaan manufaktur dalam dan luar negeri khususnya dari sektor otomotif, farmasi dan consumer goods, kata Hasman Rusli yang membawahi bagian Capital Markets di Jones Lang LaSalle – Procon. Sejak tahun lalu permintaan mulai meningkat dan terus berlanjut sampai sekarang, dimana penyerapan lahan kawasan industri di wilayah Jabodetabek dari Januari sampai dengan September 2011 tercatat sebanyak 681 hektar atau melonjak 107% dari tahun lalu, lanjut Hasman.  Menurutnya, kondisi ini masih akan terus berlangsung seiring optimisme kalangan investor terhadap perekonomian Indonesia yang sedang menanjak.

Sementara itu, pertumbuhan positif juga terjadi di pasar residential dan retail selama triwulan ini. Menurut Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle – Procon, stabilitas ekonomi yang mendorong bank untuk menurunkan suku bunganya membuat pembelian kondominium baru selama periode Juli sampai September 2011 meningkat sebesar 17% menjadi sebanyak 2,300 unit. Dengan demikian total penjualan kondominium baru dalam sembilan bulan pertama tahun 2011 saja sudah mencapai sekitar 6,000 unit, dibandingkan tahun lalu yang secara keseluruhan hanya mencetak penjualan sebanyak 3,760 unit, kata Anton.

Tren penjualan kondominium di dalam kota ini juga didorong oleh meningkatnya kebutuhan akan hunian yang dekat dengan tempat beraktifitas seperti kantor ataupun sekolah, sebagai kompensasi dari makin parahnya kemacetan lalu lintas di Ibukota.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa dampak perkembangan ekonomi juga dirasakan di pasar pusat perbelanjaan sewa di Jakarta. Permintaan dari peritel untuk menambah jumlah outletnya membuat tingkat hunian mal meningkat dari 85% di awal tahun menjadi 88% di bulan September. Prospek pertumbuhan bisnis ritel ini tidak hanya mendorong ekspansi peritel yang sudah ada, namun juga peritel asing dan internasional yang melihat besarnya peluang dan potensi dari pertumbuhan kalangan menengah di Ibukota, seperti yang dilakukan oleh Lotte Dept. Store dari Korea baru-baru ini.

Ketika menyampaikan pandangannya terhadap prospek pertumbuhan pasar properti ke depan, Lucy Rumantir, yang menjabat sebagai Chairman Jones Lang LaSalle – Procon mengatakan bahwa perekonomian Indonesia yang saat ini menjadi daya tarik investor asing dan internasional akan menjadi landasan yang kuat bagi perkembangan positif sektor-sektor properti baik di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya.

Menurutnya, kecemasan akan penurunan ekonomi global akibat lambatnya pemulihan ekonomi Amerika dan Eropa di perkirakan tidak akan secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan pasar properti dalam negeri. Besarnya pangsa pasar dalam negeri yang ditunjang pertumbuhan kalangan ekonomi menengah dan proyeksi perkembangan investasi dari manca negara akan menjadi faktor pendorong bisnis sekaligus buffer terhadap gejolak instabilitas yang mungkin terjadi. Berdasarkan skenario optimis, bukan tidak mungkin perekenomian dan perkembangan pasar properti Indonesia akan kembali mengalami masa keemasan seperti yang terjadi di pertengahan tahun 90-an, tutupnya.

No comments:

Post a Comment