“Permintaan ruang kantor dan
lahan industri melaju pesat, pasar hunian terus berkembang.”
Perkembangan ekonomi Indonesia
yang stabil terus menarik minat investor baik lokal maupun asing untuk
mengembangkan sayap bisnisnya di dalam negeri. Perusahaan dari berbagai sektor
usaha terus melakukan pengembangan baik berupa ekspansi jumlah karyawan,
pengembangan kantor baru maupun peningkatan fasilitas produksinya. Hal ini
memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi pasar properti di Jakarta
khususnya sektor perkantoran komersial dan juga kawasan industri.
Permintaan dari kalangan
korporasi ini menjadi penggerak utama kedua sektor tersebut, yang dalam dua tahun
terakhir mengalami peningkatan sangat pesat. Sementara itu, kondisi
perekonomian yang mendukung penurunan suku bunga bank dan juga mendorong daya
beli konsumen menjadi penggerak pertumbuhan pasar residential and retail di
Ibukota ini.
Kedua sektor tersebut juga
mengalami pertumbuhan positif selama triwulan ketiga tahun 2011 ini. Demikian
kesimpulan paparan yang disampaikan oleh Jones Lang LaSalle – Procon, sebuah
konsultan properti internasional yang berkantor pusat di Chicago, Amerika
Serikat, dalam acara Media Briefing, 12 Oktober 2011 di Jakarta baru-baru ini.
Dalam kesempatan itu, Todd
Lauchlan, Country Head Jones Lang LaSalle – Procon, mengatakan bahwa pasar
perkantoran di Jakarta khususnya di CBD saat ini sedang menikmati pertumbuhan
yang sangat pesat di mana permintaan ruang kantor terus meningkat seiring
perkembangan perusahaan-perusahaan baik yang sudah established maupun yang baru
akan masuk ke Indonesia. Tingkat penyerapan di daerah CBD selama sembilan bulan
pertama tahun 2011 mencapai sekitar 340,000 m2, atau meningkat sebanyak 182%
dari periode yang sama tahun sebelumnya, katanya.
Lebih lanjut dia menambahkan
bahwa tingkat penyerapan tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang dekade
terakhir, yang menunjukan bahwa pasar perkantoran di CBD berkemungkinan
mengalami periode booming seperti sebelum krisis moneter tahun 1997 yang ditandai
dengan tingginya tingkat hunian (diatas 90%) dan pesatnya pertumbuhan harga sewa.
Hal serupa juga terjadi di pasar
kawasan industri. Permintaan akan lahan dan fasilitas industri terus meningkat
secara tajam akibat agresifnya ekspansi sejumlah perusahaan manufaktur dalam
dan luar negeri khususnya dari sektor otomotif, farmasi dan consumer goods,
kata Hasman Rusli yang membawahi bagian Capital Markets di Jones Lang LaSalle –
Procon. Sejak tahun lalu permintaan mulai meningkat dan terus berlanjut sampai
sekarang, dimana penyerapan lahan kawasan industri di wilayah Jabodetabek dari
Januari sampai dengan September 2011 tercatat sebanyak 681 hektar atau melonjak
107% dari tahun lalu, lanjut Hasman. Menurutnya, kondisi ini masih akan terus berlangsung seiring
optimisme kalangan investor terhadap perekonomian Indonesia yang sedang
menanjak.
Sementara itu, pertumbuhan
positif juga terjadi di pasar residential dan retail selama triwulan ini.
Menurut Anton Sitorus, Head of Research Jones Lang LaSalle – Procon, stabilitas
ekonomi yang mendorong bank untuk menurunkan suku bunganya membuat pembelian
kondominium baru selama periode Juli sampai September 2011 meningkat sebesar
17% menjadi sebanyak 2,300 unit. Dengan demikian total penjualan kondominium
baru dalam sembilan bulan pertama tahun 2011 saja sudah mencapai sekitar 6,000
unit, dibandingkan tahun lalu yang secara keseluruhan hanya mencetak penjualan
sebanyak 3,760 unit, kata Anton.
Tren penjualan kondominium di
dalam kota ini juga didorong oleh meningkatnya kebutuhan akan hunian yang dekat
dengan tempat beraktifitas seperti kantor ataupun sekolah, sebagai kompensasi
dari makin parahnya kemacetan lalu lintas di Ibukota.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa
dampak perkembangan ekonomi juga dirasakan di pasar pusat perbelanjaan sewa di
Jakarta. Permintaan dari peritel untuk menambah jumlah outletnya membuat
tingkat hunian mal meningkat dari 85% di awal tahun menjadi 88% di bulan
September. Prospek pertumbuhan bisnis ritel ini tidak hanya mendorong ekspansi
peritel yang sudah ada, namun juga peritel asing dan internasional yang melihat
besarnya peluang dan potensi dari pertumbuhan kalangan menengah di Ibukota, seperti
yang dilakukan oleh Lotte Dept. Store dari Korea baru-baru ini.
Ketika menyampaikan pandangannya
terhadap prospek pertumbuhan pasar properti ke depan, Lucy Rumantir, yang
menjabat sebagai Chairman Jones Lang LaSalle – Procon mengatakan bahwa perekonomian
Indonesia yang saat ini menjadi daya tarik investor asing dan internasional
akan menjadi landasan yang kuat bagi perkembangan positif sektor-sektor
properti baik di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya.
Menurutnya, kecemasan akan penurunan
ekonomi global akibat lambatnya pemulihan ekonomi Amerika dan Eropa di
perkirakan tidak akan secara signifikan mempengaruhi pertumbuhan pasar properti
dalam negeri. Besarnya pangsa pasar dalam negeri yang ditunjang pertumbuhan
kalangan ekonomi menengah dan proyeksi perkembangan investasi dari manca negara
akan menjadi faktor pendorong bisnis sekaligus buffer terhadap gejolak
instabilitas yang mungkin terjadi. Berdasarkan skenario optimis, bukan tidak
mungkin perekenomian dan perkembangan pasar properti Indonesia akan kembali
mengalami masa keemasan seperti yang terjadi di pertengahan tahun 90-an, tutupnya.



No comments:
Post a Comment